SteveTony Series : Tiramisu

 

Apa memang tak bisa?”

Gadis di depannya menggeleng pelan.
Anthony menghela nafas. “Well, okay,” katanya lirih.

Perempuan berparas manis itu,
Menyodorkan sebuah cincin yang baru saja dilepasnya dari lingkar jari manisnya.
Anthony menerimanya dengan kecamuk dalam hati.

“Maaf, Tony…” sesal gadis itu tidak main-main.

Tersenyum tipis, “Oh. Terima kasih, Pepper. Selamat tinggal.”

Pria bermata hijau gelap kecokelatan itu berbalik,
Berjalan menjauh di bawah guyuran salju.
Hingga ia menghilang di belokan,
Hingga ia merosot di balik dinding sebuah toko yang belum buka.
Sendiri. Lagi.

Cinta itu… pahit.

—–

“Tony! Hentikan ini! Kita harus pulang–,”

“Aah… Steve yaa?” Tony menenggak kembali minuman dalam gelas besarnya.
Lalu tertawa dan meracau tak jelas.

Lelaki pirang yang memegangi lengannya menghela nafas.
“Tony. Kau mabuk berat. Lagi.”

“Apa pedulimu?!” tiba-tiba pria berambut hitam itu berteriak pada Steve.
“Jangan pedulikan aku,” katanya lagi, masih mabuk.
“Tinggalkan saja aku… seperti semuanya meninggalkanku… haha.”

Si pirang bertubuh atletis itu mengernyitkan dahinya.
“Baiklah. Aku akan meninggalkanmu,” Steve berujar, melepaskan lengan Tony dari genggamannya.
Lalu beralik pergi.

Dan Anthony Stark menarik kembali tangan itu. Tangan besar dan hangat milik Steven Rogers.

“Steve… jangan tinggalkan aku.”

Steve tersenyum. Menarik anak Howard Stark itu berdiri, lalu menciumnya sejenak.
Setidaknya itu cukup untuk membuat Tony sadar.

“Tidak akan. Kau tahu kan, kalau aku tak mungkin meninggalkanmu…”

Pria yang memiliki Avengers Tower itu menunduk malu.
“Ya… ya.”

“Ayo pulang,” kata si pirang mengulurkan tangannya.
Tony menyambutnya sedikit gemetar.

‘Akankah tangan ini meninggalkanku seperti tangan yang mencampakkanku siang tadi?’

—–

Steve membantu Tony untuk masuk ke kamarnya dan berbaring.

“Jarvis.”

“Ya, Tuan Rogers?” suara mesin khas Jarvis menjawabnya.

“Jaga Tony.”

“Baik, Tuan Rogers.”

Steve menatap wajah Tony sejenak, mengucapkan, “Selamat malam, Stark.”

Tapi baru selangkah ia hendak pergi, tangan Tony bergelayut di lengannya.

“Tetap di sini. Temani aku tidur.”

“Hhhh… Jarvis, siapkan satu ranjang lagi di sini–,”

“Tak perlu. Jarvis, pergilah. Rogers bisa tidur seranjang denganku.”

“Baik, Master.”

“Terima kasih, J,” ucap Tony menuntaskan perintahnya.

Steve menggaruk tengkuknya canggung.
Err, so?

Come here, Rogers. Let’s sleep.

Akhirnya sang Captain hanya bisa menuruti Iron Man yang masih sedikit mabuk.
Perlahan Steve naik ke atas ranjang, dan Tony bergeser untuk memberi tempat.
“Sempit,” komentar si pirang tanpa ada nada keberatan dalam suaranya.

“Peluk saja aku. Kan nggak jadi sempit.”

Tony, please…

“Hei tadi kau menciumku di bar penuh orang dan sekarang, kau nggak sudi memelukku untuk menghemat tempat?”

Si pirang mendengus malu. Wajahnya mulai merah.

Ia lingkarkan tangannya di pinggang Stark muda itu, merengkuhnya ke dalam pelukannya.

“Hei…” panggilnya.

Sedang Tony hanya bergumam sebagai jawaban.

“Aku mencintaimu, Anthony.”

“…”

Ada sunyi yang senyap untuk beberapa saat.

Well…” Tony menjawab lamat-lamat, sengaja mendramatisasi suasana.
Lalu ia lingkarkan lengannya ke leher Steve, pelan, hangat.
“Aku juga mencintaimu, Steve. Sekarang, ayo tidur.”

Steve hanya bisa terkekeh. “Sialan kau.”
Tapi tak urung ia berikan satu lagi kecupan selamat malam di atas bibir kemerahan itu.
Goodnight, Tony.

—–

‘Well cinta itu terkadang pahit. Tapi cinta juga manis. Seperti Tiramisu. Aku akan menjaga cinta Steve untukku baik-baik. Dan ini adalah cintaku yang terakhir.’

Keduanya tidur nyenyak malam itu. Masih saling mendekap, berbagi hangat.

–End–

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s